|

Menyibak Kabut Pekat di Gunung Tangkuban Perahu Bandung

Liburan di Bandung pas musim hujan dan lupa bawa payung atau jas hujan? Nggak banget ya. haha. Begitulah yang terjadi waktu saya dan rombongan keluarga liburan ke Gunung Tangkuban Perahu Bandung. Kami  berdelapan berangkat dari Bandung 23 November 2016 pagi-pagi sekali, pukul 7 menuju jalan raya Cikole Lembang yang ke arah Tangkuban Perahu. *sorry latepost pake banget, baru sempet nulis sekarang, ini perjalanan sehari setelah dateng ke wisudaan adek di ITB* 😀

Berbekal Google Maps yang dipakai Ayie, pak sopir sengaja diarahkan ke jalur dua. Jadi kami nggak melewati Jalan Setiabudi yang macet banget itu, hehe. Kami lewat jalan arah Dago Dreampark. Waktu itu Dago Dreampark masih pembangunan, jadi kami belum sempet main ke sana.

kawasan Gunung Tangkuban Perahu Bandung
masuk kawasan Gunung Tangkuban Perahu Bandung

Anyway, jalan raya jalur dua ini lumayan berliku-liku. Aspalnya jelek pisan. Hiks. Bener-bener menguras emosi jiwa. :’) Tapi terbayar sudah waktu mobil kami akhirnya sampai juga di jalur jalan raya menuju Cikole Lembang. Yah, perjalanan panjang pun dimulai. 😀

Mencicipi Aroma Belerang di Tepi Kawah Gunung Tangkuban Perahu

Saat mobil melewati jalur dua, hujan masih gerimis saja, belum yang deres banget. Pas udah nyampe di jalan raya Cikole, trus masuk ke tempat wisata Tangkuban Perahu Bandung (tiket masuk 30 rb an apa ya), waaahhh, intensitas curah hujannya bertambah. Hujan turun makin deras. Hahaha. Berkali-kali pak sopir harus menyalakan whisper untuk membersihkan kaca depan mobil dari embun yang menutupi pandangan.

kabut pekat di Tangkuban Perahu
kabut kabut dan kabut
kabut pekat di Tangkuban Perahu
kabut pekat di Tangkuban Perahu

Sampai di tempat parkiran yang saya herankan adalah kok hujannya makin deras. Nanti turunnya gimana? Trus kok sejauh mata memandang yang nampak  hanya kabut, kabut dan kabut. Nggak ada pandangan selain itu. Jarak pandang deket banget deh, hanya 5 meter. Kami seperti terjebak di negeri antah berantah di atas awan  yang tak menampakkan sinar matahari hari itu. Dan karena jalannya licin harus hati-hati banget pas bawa mobil, biar selamat sampai tujuan.

Pas mau turun dari mobil, kami ditawari untuk menyewa jasa ojek payung. Jadi kami pun sewa beberapa payung dan membeli jas hujan sekali pakai yang tipis banget itu, hehe. 

Berhubung hujannya belum juga reda, kami memutuskan untuk naik ke atas. Bapak bilang di dekat kawah ada warung kecil yang menjual aneka makanan dan minuman. Saat sampai di warung saya pun memesan nasi goreng dan bajigur. 😀

naik kuda di wisata bandung
penginnya bisa naik kuda kalau cuacanya membaik, hehe
nasi goreng bandung
nasi goreng bandung

Anyway, soal rasa nasi gorengnya biasa aja ya, hehe. Hanya saja kalau kamu butuh makan di sini tersedia banyak makanan pengganjal perut mulai dari nasi goreng, ketoprak, gorengan, pop mie, dan aneka minuman yang bisa dipesan. Karena lumayan lama masak nasi gorengnya, jadi beberapa gorengan pun kandas diperebutkan kami yang kelaparan. Wekeke. 😛

pohon mati di Gunung Tangkuban Perahu
pohon mati di Gunung Tangkuban Perahu

Pas saya keliling di dekat warung, ada penjual oleh-oleh juga yang baru saja membuka warungnya. Oleh-oleh yang dijajakan beraneka ragam, mulai dari topi bulu berbentuk kepala hewan, aneka kerajinan berbahan rajutan, misal tas rajut, dompet rajut, syal, cape rajut, kaos bertuliskan tangkuban perahu, dll. Harganya cukup murah, saya beli boneka bulu berbentuk kepala hewan bayar hanya 15 rb an saja per buahnya. Untuk produk rajutan kisaran 50-100 rb an per buah.

Di sekitar warung, saya dan adek pun menjelajah dan menemukan semacam hutan mati gitu. Jadi di sana banyak pohon kering meranggas berwarna hitam. Saya nggak tahu apa ini karena bau belerang yang lumayan pekat itu ya, makanya pohon nggak bisa tumbuh di sana. Tapi emang sih bau belerangnya cukup menyengat, sampai saya harus pakai masker biar nggak kerasa baunya.

wisata gunung tangkuban perahu
tangkuban perahu saat kabut pekat menyelimuti

Kami menanti cuaca membaik, setidaknya sampai kabut mulai turun dan hujan tidak sederas sebelumnya. Tapi cuaca tidak juga membaik, jadi kami putuskan untuk turun dan menjelajah ke bagian bawah yaitu tepi kawah.

Untuk mencapai kawah Tangkuban Perahu, dari atas warung kami pun menuruni beberapa anak tangga, lalu jalan sedikit sudah sampai di tepi kawah. Sampai kami tiba di sana nggak ada keliatan tanda-tanda kami bisa melihat isi kawah tangkuban perahu seperti apa. Bener-bener semuanya ketutup kabut. Pekat sekali. Jadi cuma bisa berfoto berlatarkan tulisan Tangkuban Perahu.

sama Ayie
warung makan dekat kawah di Gunung Tangkuban Perahu
warung makan dekat kawah di Gunung Tangkuban Perahu

Berburu Oleh-oleh dan Kuliner di Wisata Gunung Tangkuban Perahu Bandung

Setelah itu jalan agak jauh dari tempat parkir mobil, terlihat ada pusat oleh-oleh yang besar sekali. Mirip terminal gitu yak. Saya ngerasa anehnya tuh pas waktu masuk ke area itu. Ibu saya bilang gini, “Kok tadi kita nggak liat ada pusat oleh-oleh ini ya, Ki? Kan padahal tadi ngelewatin. Masa ketutupan kabut?”

Denger ibu saya bilang gitu tetiba saya merinding. Hahaha. Seriusan, baru kali itu saya ngebayangin gimana pekatnya kabut yang menerpa kaca mobil kami selama perjalanan dari arah Cikole ke Tangkuban Perahu. Sepanjang jalan, saya duduk di kursi dengan cemas dan berharap cahaya matahari segera muncul, tapi nggak kunjung tampak. Malah intensitas hujan pun makin bertambah deras.

kabut pekat
kabut pekat sekali
pedagang yang menjajakan kuliner khas sunda
pedagang yang menjajakan kuliner khas sunda
oleh-oleh gunung tangkuban perahu
mau berburu oleh-oleh di gunung tangkuban perahu? hayukk!

Kejadian ini bikin saya jadi makin was-was. Saya pun banyakin baca dzikir biar nggak takut. Wkwk. Bener-bener pengalaman yang nggak akan saya lupakan. Ya, baru ngrasain deh gimana serasa ada di negeri antah berantah dengan kabut pekat yang menyelimuti. Alhamdulillah masih dilindungi sama Allah.

Di pusat oleh-oleh itu kami pun berpencar. Adek saya nyari strawberry, trus hunting kuliner dan saya malah nawar tas lipat. Wkwk. As always, saya dapet harga tas murah meriah. Tas lipat lucu gitu cuma 10 rb an, cyiin. Mayan banget kan buat oleh-oleh. Apalagi kualitas jahitannya bagus. Motif kainnya juga unik.

wisata Gunung Tangkuban Perahu
pedagang yang menjual makanan di Gunung Tangkuban Perahu
ulen bakar kuliner sunda
ulen bakar plus srundeng dan oncom. nyummy

Yang bikin saya sedih tuh beberapa minggu kemudian tas lipat bermotif bunga-bunga kecil itu malah kena silet copet di balaikota lama. Hih, kzl. Mbok kalo mau ngejambret tuh ya mikir-mikir dungs. Tas baru dipake dah disilet. Huhu. Walo ada pengganti tas lainnya tapi kan yaaa, susah nemu tas bermotif yang sama. :’) *anaknya susah move on*

Oh iya, kami nggak lama di wisata Tangkuban Perahu karena abis itu rencananya mau eksplore wisata Lembang yang lainnya yaitu jreng-jrenggg… apa coba? Yups. Selanjutnya liburan seru di Floating Market Lembang Bandung. Nah, kalau kamu, apa pernah terjebak kabut pekat juga saat liburan di musim penghujan? Share dong di komentar. 😉

Similar Posts

7 Comments

  1. Kapan-kapan ingin banget berkunjung ke Tangkuban Perahu, tapi pas cuacanya bagus kali ya 😀 Soalnya kalau bawa anak takut kenapa-napa di cuaca kabut kayak gitu, hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *